Media Dalam Perspektif Ekonomi dan Politik
Media Dalam Perspektif Ekonomi dan Politik
I. PENDAHULUAN
Media adalah alat saluran komunikasi. Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak kata medium. Secara harfiah, media berarti perantara, yaitu perantara antara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Beberapa hal yang termasuk ke dalam media adalah film, televisi, diagram, media cetak (printed material), komputer, dan lain sebagainya. Media merupakan alat yang dapat membantu dalam keperluan dan aktivitas, di mana sifatnya dapat mempermudah bagi siapa saja yang memanfaatkannya.
Dalam Buku Media Massa dan Masyarakat Modern (2003) karya William R. Rivers, Jay W. Jensen dan Theodore Peterson menarik untuk ditelaah. Buku ini tak hanya menjelaskan tentang kedudukan media dalam masyarakat Amerika, hubungan pers dengan pemerintah dan bagaimana kebebasan pers diperjuangkan, melainkan juga tentang ketergantungan masyarakat Amerika kepada media.
Kajian Ekonomi Politik Media adalah studi yang mempelajari media massa yang dikaitkan dengan ekonomi dan politik. Kemajuan teknologi informasi dewasa ini mengakibatkan efek yang sangat luas, termasuk didalamnya media, ekonomi dan politik. Derasnya perubahan arus globalisasi mendorong untuk pemahaman mendalam terhadap perkembangan media, ekonomi dan politik. Media adalah institusi sosial yang berkaitan dengan kekuasaan/kekuatan dan pengaruh persuasif (powerfull and persuasive influence). Media massa merupakan saluran, yang menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu (Tan & Wright dalam Liliweri (1991) dalam Elvinaro, 2007:3).
II. ISI
Bagaimana konstelasi media di tengah situasi ekonomi dan politik? Itulah barangkali merupakan pertanyaan terakhir yang harus dijawab pada saat seorang reader hendak mengakhiri pembacaan terhadap produk media. Makna akhir dari sebuah “pembacaan” sebenarnya adalah sebuah gambaran tentang sejauh mana media mengambil posisi di tengah pergulatan kepentingan dan ideologi dalam setting kepemilikan (ekonomi) dan setting kekuasaan (politik). Wilayah ini barangkali adalah abstraksi yang paling advanced. Penelusuran dari taraf mikro (tekstual) tiba-tiba dihadapkan pada serangkaian konsep teoritik tentang relasi sosial, ekonomi dan jalinan kekuasaan yang berlangsung dalam produksi dan distribusi bahasa media. Dalam menjelaskan relasi ini, Vincent Mosco menawarkan tiga konsep penting untuk mendekatinya yakni: komodifikasi (commodification), spasialisasi (spatialization) dan strukturasi (structuration) (Mosco, 1996:139).
Perspektif liberal akan cenderung memfokuskan pada isu pertukaran pasar di mana konsumen akan secara bebas memilih komoditas media media sesuai dengan tingkat pemanfaatan dan kepuasan yang dapat mereka capai berdasarkan penawaran yang ada. Semakin besar pasar memainkan peran, maka semakin luas pula pilihan yang dapat diakses oleh konsumen. Sebagai sebuah produk kebudayaan, media harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk dimiliki oleh siapapun secara bebas dan tak kenal batas.
Golding dan Murdock kemudian lebih memberatkan kajian ekonomi politik media dari perspektif kedua, yakni perspektif kritis. Pertimbangannya adalah bahwa media semestinya dilihat secara lebih holistik, karena produksi, distribusi dan konsumsi media berada dalam sebuah lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang strukturnya saling mempengaruhi. Boleh jadi media kemudian mengambil peran di dalam mendominasi isi pesan dan melegitimasi kelas dominan. Pemilik modal bisa mengambil keuntungan atas preferensinya terhadap komodifikasi produk media. Pada aras inilah maka sesungguhnya perbincangan mengenai ideologi, kepentingan kekuasaan mendapat tempat. Dalam sudut pandang Marxis, preferensi pemilik modal memampukan lembaga media mengambil peran sebagai penyebar kesadaran palsu yang meninabobokan khalayak. Atau, media dapat digunakan untuk melancarkan hegemoni dengan menutupi atau merepresentasikan kepentingan kelas berkuasa. Pada wilayah terakhir ini, produksi teks hakikatnya merupakan bentuk laten dari kekuasaan yang bekerja dalam lembaga media.
III. KESIMPULAN
Produksi komunikasi, bukanlah refleksi sederhana dari kontrol kepentingan bagi mereka yang memiliki ataupun mengkontrol jangkauan modal dan peralatan yang dapat me make up makna dengan barang-barang budaya yang dibuat dan disitribusi. Media tempat dimana masyarakat bekerja adalah lapangan dari kode dan ideologi profesional yang ada aspirasi personal dan sosial. Peningkatan jumlah produksi budaya disumbang oleh korporasi besar yang telah sejak lama menaruh perhatian dengan teori demokrasi. Mereka melihat kontradiksi fundamental antara idealnya media publik harus beroperasi sebagai ruang publik dan realitas pusat pribadi pemilik. Mereka khawatir para pemilik akan menggunakan hak prioritasnya guna membatasi arus dari informasi dan debat terbuka sebagai ketergantungan dari demokrasi. Tidak hanya pemilik sperti halnya Pullitzer dan Hearst di Inggris yang memiliki rantai sirkulasi suratkabar yang besar, tapi mereka secara jelas tidak memiliki keraguan untuk menggunakan media dalam rangla mempromosikan kehendak politiknya atau menjelekan orang yang tidak setuju dengan mereka (pemilik media). Ketika ekonomi politik telah memberikan perhatian pada agensi, proses, dan praktik sosial, ia cenderung fokus ada kelas sosial. Terdapat alasanalasan yang baik untuk membertimbangkan strukturasi kelas menjadi titik masuk utama untuk memahami kehidupan sosial, sebagai studi mendokumentasikan pembagian kelas secara terus menerus dalam menegaskan ekonomi politik komunikasi. Namun, terdapat dimensi lain strukturasi yang melengkapi dan bertentangan dengan analisis kelas sosial, termasuk gender, ras, dan gerakan-gerakan sosial, yang didasarkan pada isu-isu publik seperti penggunaan media massa. Bersama dengan kelas sosial, strukturasi ini merupakan bagian dari relasi sosial komunikasi.
Komentar
Posting Komentar